Monday, July 22, 2013

An Entrepreneurship Seminar for Alumni of English Education Department


Dr. I Gede Budasi, M.Ed, a lecturer of English Education Department, gave a seminar on entrepreneurship for the alumni on Monday, 22 July 2013. He presented his paper entitled “Mengembangkan Kewirausahaan Melalui Bisnis Jasa Bagi Kaula Muda” for about two hours including Q&A session.

Throughout the presentation, he kept encouraging the audiences to involve in entrepreneurship despite the lack of capital. “The best business is the business with no money. But, it actually generates money” He said. Although he did not also deny that capital is also important, he believed creativity and innovation hold greater role in developing an entrepreneurship.

He also said that entrepreneurship is a promising thing for the alumni of English Education Department. He revealed the fact that the increasing number of the population of Indonesia does not correspond the number of vacancies available nowadays. Therefore, in his opinion, entrepreneurship can decrease the number of unemployment of the alumni.

He also showed the audiences myriad brilliant ideas of entrepreneurship and closed his presentation by showing the projects of entrepreneurship he has worked or is working on.  

Sunday, June 30, 2013

141 EKSAMINADUS MENGIKUTI UPACARA YUDISIUM FAKULTAS BAHASA DAN SENI PERIODE BULAN JUNI


Sebanyak 141 eksaminandus secara resmi dinyatakan lulus dengan revisi pada upacara yudisium Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) pada hari Jum’at 28 Juni 2013 di Ruang Teater Kampus Bawah Undiksha. Ke141 mahasiswa ini secara resmi diserahkan oleh masing-masing ketua jurusan atau yang mewakilkan. Pembantu Dekan I dibantu Pembantu Dekan II kemudian membacakan surat keterangan (SK) dekan FBS untuk diresmikan oleh dekan FBS.

Para eksaminandus telah berhasil mengikuti ujian skripsi/TA periode bulan Juni sehingga berhak untuk mengikuti upacara yudisium periode bulan Juni. Para eksaminandus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) berhasil menyelesaikan ujian skripsi dari tanggal 20-25 Juni 2013. Sementara para eksaminandus dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) menyelesaikan ujian skripsi dari tanggal 21-27 Juni 2013. Para eksaminandus Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang DIII (PBJ) berhasil menyelesaikan ujian TA dari tanggal 20-22 Juni 2013. Dan para eksaminandus dari Jurusan Bahasa Inggris DIII (BI) berhasil menyelesaikan ujian TA dari tanggal 24-26 Juni.


Dari 141 eksaminandus, 13 eksaminandus berasal dari PBSI, 28 dari PBI, 43 dari PBJ, dan 47 dari BI. Para lulusan diharapkan menyelesaikan kewajibannya sampai dengan tanggal 12 Juli 2013 pukul 12 siang jika tidak ingin membayar SPP semester Ganjil 2013/2014. Apabila pada tanggal tersebut belum menyelesaikan kewajiban, para lulusan diberikan waktu 3 bulan untuk menyelesaikan dengan konsekuensi membayar SPP. Dan apabila sampai 3 bulan para lulusan belum menyelesaikan kewajibannya maka skripsi yang sudah diujikan akan diuji kembali dan jika lulus akan diyudisium kembali diperiode yang bertepatan (Arik)

Monday, June 10, 2013

(Slang Bahasa Inggris) Nuts


Hai teman-teman, apa kabar? Kali ini saya akan berbagi tentang kata slang yang saya dapat di kelas Global Corps Bali 2013. Kata slang kali ini adalah nuts. Apakah teman-teman tahu artinya?

Baik bagi yang belum silakan ikuti penjelasan yang saya dapatkan tadi!
            Nuts dilapalkan /nᴧts/ adalah sebuah kata sifat.
Nuts /nᴧts/ mempunyai arti yang sama dengan crazy, insane dan sebagainya, yang dalam Bahasa Indonesia berarti gila.

 
Untuk penjelasan lebih lanjut tentang nuts /nᴧts/, teman-teman juga bisa mengunjungi salah satu link berikut:
1.      Urban Dictionary
2.      Dictionary.com

Menurut Cambridge Advance learners’ Dictionary, nuts /nᴧts/ juga memiliki arti yang sama dengan kata foolish, stupid, atau strange, yang dalam bahasa Indonesia berarti bodoh atau aneh.

Berikut contohnya: You must be nuts to call me at midnight.

Okay bagaimana teman-teman, bermanfaat? Saya berharap demikian.
Salam. 


Sunday, June 09, 2013

Bahasa Inggris Slang Amerika: Anytime

Hi teman-teman, sorry baru bisa nge-pos. Jumat kemarin saya belajar ekspresi anytime. Ekspresi ini sangat banyak dijumpai dalam percakapan bahasa Inggris, dan tentunya memiliki arti yang lumayan bervariasi juga.

Dari salah satu mahasiswa Northeastern University, saya mendapat penjelasan sebagai berikut:
Anytime diucapkan /'en.i.taIm/
Anytime /'en.i.taIm/ memiliki arti yang sama dengan you are welcome, no worries, no problem, dan sebagainya atau dalam Bahasa Indonesia berarti 'sama-sama' atau dalam Bahasa Bali 'sing ken-ken'.
Ekspresi Anytime /'en.i.taIm/ biasanya digunakan untuk merespon ucapan 'thank you' atau terimakasih dalam Bahasa Indonesia.

Jadi dengan mengetahui ekspresi ini, teman-teman bisa menggunakan bahasa Inggris yang lebih bervariasi. FYI, Anytime /'en.i.taIm/ juga memiliki arti yang berbeda.

Oh ya, saya tidak lupa menyertakan beberapa referensi buat teman-teman yang ingin mempelajarinya lebih, atau ragu dengan penjelasan yang saya ulas. Silakan kunjungi link-link berikut untuk penjelasan yang lebih!

Demikian yang bisa saya sharing. Semoga bermanfaat.
Salam.

Sumber Gambar: Klik di sini





Thursday, June 06, 2013

Pemuda Peduli Lingkungan Bali (PPLB): Dari Sekaa Demen Sampai sebuah Organisasi


Hari ini bersama teman-teman dari Undiksha dan Northeastern University mendapat kesempatan mengunjungi Pemuda Peduli Lingkungan Bali (PPLB). Beberapa hal yang sangat menarik dan menginspirasi saya dapatkan dari hasil pertemuan di beranda gedung IMACO, Pelabuhan Buleleng. 

PPLB merupakan sebuah organisasi yang amat baru. Berdiri pada tanggal 15 September 2012, PPLB mempunyai visi dan misi dalam melestarikan lingkungan terutama membebaskan lingkungan dari sampah plastik. Awal berdirinya PPLB sangat unik. Berangkat dari sekaa demen yang memiliki kesamaan kesadaran akan banyaknya sampah plastic yang mereka temui saat hiking, atau bermain sepak bola di pantai, Suka dan kawan-kawan akhirnya membentuk organisasi non- profit ini. Dengan bimbingan dan arahan serta donasi awal dari Made Sedana akhirnya PPLB resmi mendapat ijin dari pemerintah Bali/Kabupaten Buleleng. Sejarah lengkap bias dilihat disini.

PPLB memiliki beberapa program jangka pendek dan program jangka panjang. Beberapa program telah dilaksanakan dan beberapa program masih diagendakan. Beberapa program pendek seperti: 

(1) sosialisasi bahaya sampah plastik, cara pengelolaan, dan sosialisasi persuasive tentang lingkungan lainnya. Sosialisasi disampaikan dengan cara yang unik yaitu melalui kesenian tari Bali, Bondres; 
(2) mewujudkan desa bebas sampah plastik. Desa sambangan, basis PPLB, menjadi desa target untuk mewujudkan desa bebas sampah plastik. Bekerjasama dengan pihak-pihak terkait di desa Sambangan, PPLB telah melakukan beberapa hal seperti sosialisasi seperti yang disebutkan sebelumnya, memasang plang bebas plastik dan poster dan sebagainya. Pembangunan TPSS juga direncanakan; 
(3) Pengelolaan sampah yang lebih bagus. Pembuatan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) akan membuat pengelolaan sampah lebih maksimal. Selain berguna bagi lingungan, masyarakat pengelola juga akan mendapatkan keuntungan. Misalnya dengan penjualan sampah plastik untuk daur ulang, pembuatan kompos dari sampah organic dan lain-lain.

Sementara untuk program jangka panjang, PPLB berencana membuat sebuah sekolah berbasis lingkungan di masa depan. 

Untuk menjalankan program-program tersebut, PPLB memiliki sebuah kepengurusan, yang didalamnya terdapat kira-kira 15-20 anggota. Keanggotan bersifat terbuka, jadi yang ingin bergagung terutama mahasiswa, siswa SMA, dan truna-truni, akan disambut dengan hangat. Dan begitu juga kalau berhenti, pintu dibuka dengan lebar. Jadi tidak ada ikatan khusus. 

Selain anggota, hal yang berperan penting dalam menjalankan program-program tersebut adalah dukungan finansial dan dukungan jaringan. Dukungan finansial hanya bertumpu pada dukungan donasi dari yang bersedia. Direncanakan jika TPSS sudah selesai, maka hasil pengelolaan sampah akan sangat membantu. Untuk jaringan, PPLB telah bekerja sama dengan beberapa pihak seperti pemerintah daerah, pemerintah desa Sambangan, sekolah-sekolah di desa Sambangan dan sebagainya.

Masalah yang sering dihadapi oleh PPLB dalam menjalakna program yaitu
(1) Pendanaan. 
Pernah suatu ketika para anggota ber-urunan untuk mendanai suatu program. Jadi dukungan sponsor dan donatur sangat diharapkan partisipasinya dalam menjaga dan memelihara lingungan.
(2) Keanggotaan.
Masalah keanggotaan menjadi masalah karena adanya stigma negatif bahwa memungut sampah plastik adalah sama dengan apa yang dilakukan pemulung. Oleh karena itu, Suka menghimbau dan sering mensosialisasikan bahwa apa yang dilakukan PPLB adalah lebih mulia dari memulung, tapi menyelamatkan lingkungan dan bumi.

Demikian informasi yang bias saya bagikan. Untuk informasi lebih lanjut silakan akses salah satu cara yang tersedia berikut:
Alamat : Jalan Srikandi Desa Sambangan

Swag, Slang Bahasa Inggris




Hi selamat malam. Seperti biasa, hari ini sangat menajubkan. Setelah icebreaker, ada Tukar Bahasa. Saya memperkenalkan ekspresi “Bisa Bantu Saya?” (Bahasa Indonesia) dan Bayu memperkenalkan ekspresi “Rahajeng Semeng” (Bahasa Bali) kepada teman-teman dari Northeatern University; dan salah satu dari mereka memperkenalkan slang “SWAG” (Bahasa Inggris) kepada kami.

Berikut penjelasan mengenai kata slang swag:

Swag diucapakan /swӕg/ merupakan singkatan dari kata swagger.
Swag /swӕg/ mempunyai arti “Cool” atau keren. Kata ini digunakan terutama untuk menunjukkan cara orang berjalan dengan gerakan yang cool atau keren.

Menurut penjelasan dari Urban Dictionary, biasanya seseorang yg swag /swӕg/, biasanya berjalan dengan membalikan topi, dan gerakan khas. Lihat informasi lengkap disini. Lihat video di atas!

Sebagai kata slang, jadi teman-teman harus berhati-hati menggunakannya. Karena tidak selamanya semua komunitas memiliki pengertian yang sama. (Hal ini bias dilihat dari pengertian yang berbeda oleh Urban Dictionary)

Semoga bermanfaat buat teman-teman.

Jika ingin re-blog, silakan disalin dan ditempel dengan mencantumkan sumber dari sini. :D

Salam.

P.S. Ikuti pertualangan saya dalam Global Corp Program bali 2013 dengan teman-teman dari Undiksha dan Northeastern University di sini.

Wednesday, June 05, 2013

“Wicked”, Slank dari Boston




Setiap hari sebelum kelas dimulai, setelah sesi icebreaker, kita peserta Global Corps mempunyai sesi “Cultural Exchange” dalam bentuk tukar prase/kata/ekspresi dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Bali dan Bahasa Inggris.

Hari ini, Bayu memperkenalkan ekspresi “Kasian Deh Lo!” (Bahasa Indonesia); Tedy memperkenalkan ekspresi “Suksma” dalam Bahasa Bali; dan Jess (Northeastern University) menjelaskan kata “Wicked” (Bahasa Inggris).

Dua ekspresi pertama (Kasian Deh Lo! Dan Suksma) mungkin tidak asing lagi bagi saya, dan juga teman-teman pembaca. Tapi kata “Wicked” sangat begitu asing dan bahkan belum pernah saya gunakan sekalipun.
Penjelasan yang saya dapatkan ada sebagai berikut.

            Wicked diucapkan /'wIk.Id/
            Wicked /wIk.Id/ berarti “sangat” atau “very” dalam Bahasa Inggris.
Contohnya dalam Kalimat: “It’s wicked awesome.” Yang sama artinya dengan “It’s very awesome” atau dalam Bahasa Indonesia “Sangat luar biasa”.

                        Untuk informasi/penjelasan lebih lanjut, kunjungi tautan ini.

Akan tetapi dalam kamus, hal ini memiliki arti yang sangat berbeda. Wicked /wIk.Id/ memiliki arti yang sama dengan “evil” yang dalam Bahasa Indonesia berarti setan atau hal-hal yang jahat.

Wicked /wIk.Id/ yang berarti “very” hanya berlaku di Boston saja, atau beberapa daerah yang memiliki sama. Jadi hati-hati dalam menggunakannya.

Semoga bermanfaat teman-teman. Salam. 

P.S. Ikuti pertualangan saya dalam Global Corp Program bali 2013 dengan teman-teman dari Undiksha dan Northeastern University di sini.

Sumber gambar ilustrasi: klik disini.

Tuesday, June 04, 2013

Global Corp’s Welcoming Dinner: Selamat Datang Partner Asing


Takut, tapi semakin betah. Minder, tapi semakin penasaran.
Senang.

Semua perasaan bercampur menjadi satu saat menyambut kedatangan 31 mahasiswa dan 3 dosen dari Northeastern University dari Boston, Amerika Serikat. Mungkin hal yang sama juga dialami 30 teman saya mahasiswa Undiksha. Ya, kami, 31 mahasiswa Undiksha mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan 31 mahasiswa NU dalam sebuah proyek yang dibimbing oleh 3 dosen dari NU. Kesempatan yang sangat langka, namun sangat berharga, bukan?
Mendengar kata Amerika saja, saya sudah sangat ketakutan, begitu juga yang saya rasakan ketika mendapati mahasiswa NU di ruang teater Kampus Bawah (3/6). Percakapan bahasa Inggris diantara para mahasiswa Nu semakin menambah suasana menjadi sangat menyeramkan. Sejenak, bahasa asing yang saya pelajari dari SMP ini menjadi terlupakan. Kata-kata yang sangat familiar-pun rasanya sulit sekali untuk diingat. Saat mencoba mengucapkan satu kata, pengucapan yang saya sudah sering latih, yang saya contoh dari filem-filem atau kamus digital secara langsung meleset jauh. Mengerikan.
Ketakutan dan keminderan saya sedikit demi sedikit menghilang saat acara mulai dimulai. Prof. Denise memulai acara dengan sangat baik. Dipandu oleh Ryan dari Bali Institute, kami memperoleh kesempatan untuk mengenal satu dengan yang lain dengan cara yang sangat menarik.
Denise dan tim menulis beberapa nama di papan hanya beberapa yang masih saya ingat seperti Panca Pandawa, Snow White, Gold Fish, Cherry Belle, dan sebagainya. Maklum saya benar-benar minder. Setelah itu Ryan menginstruksikan kami untuk berdikso, berjoget keliling ruangan, membaur. Beberapa saat selanjutnya, Ryan dan tim menyetop musik dan menyebutkan salah satu tokoh atau nama yang telah di tulis di papan. Kemudian dengan cepat, kita harus berkumpul dengan jumlah orang dari nama tersebut. Contoh, ketika Ryan menyebut Panca Pandawa, dengan cepat kita harus berkumpul dengan jumlah lima orang. Bagi yang tidak mendapatkan kelompok dan atau lebih/kurang dari lima, maka kita akan out dari permainan. Dan saya pun harus keluar dari permainan kira-kira di putaran ke 5, ah lupa. Yang jelas, kita sangat bersenang-senang, dan saya dapat berkenalan dengan beberapa teman tamu.
Setelah permainan, Prita dan salah satu dosen dari NU, saya lupa nama beliau memanggil nama kami satu persatu dan mengarahkan ke dalam kelompom tertentu. Saya mendapat kelompok dua dengan Yuk Mang dan salah satu teman saya dari Undiksha juga, lupa namanya, dan juga dengan Rob (kurang tahun spelingnya), dan Caroline (kurang tahu juga) dan satu lagi kalau tidak salah Gana, yang saya lupa untuk berkenalan tapi ngobrol sangat panjang lebar.
Setelah mendapat kelompok, kami diminta untuk menentukan nama kelompok, lagu/yel kelompok dan beberapa hal yang sama diantara kami. Setelah diskusi yang sangat alot kami sepakat menamai kelompok kami “Satu Nyama” dengan bebera hal kami temukan sama seperti, suka makan Pizza, penggemar Rihana, dan suka blogging. Yel kami pun adaptasi dari lagunya Rihana, Umberella dan Diamonds: “We’re Satu Nyama, Nyama, Nyama, ee… (3X), we’re beautiful like Balinese sky”.
Kami dan kelompok lain silih berganti tampil, mengenalkan nama kelompok dan nama personil, menyebutkan nama-nama hal yang kita temui sama, dan bernyanyi tentunya. Oleh para dewan juri, kelompok kami mendapat skor 7,8,7. Tidak terlalu buruk.
Setelah acara perkenalan yang sangat menyenangkan ini, acara pembukaan resmi dari pihak rektorat pun dimulai yang dilanjutkan dengan makan malam.
Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan yang sangat langka tetapi berharga ini. Besok kelas sudah akan dimulai. Saya sangat penasaran dengan apa yang akan saya peroleh. Semoga besok saya lebih mampu mengendalikan rasa minder dan bias berbaur dengan para teman dari NU.

Sekali lagi, SELAMAT DATANG di Undiksha. Semoga kita bisa menjadi partner yang bagus dan bisa belajar dari satu sama lain.

P.S. Ikuti pertualangan saya dalam Global Corp Program bali 2013 dengan teman-teman dari Undiksha dan Northeastern University di sini.

Wednesday, May 22, 2013

Lomba Penulisan Opini tk. Mahasiswa Se-Bali: Sebuah Refleksi




Saya memperoleh pengalaman yang sangat berharga sekali saat mengikuti babak final LombaPenulisan Opini tk. Mahasiswa Se-Bali yang diadakan oleh UKM Persma VISIUndiksha. Selain mendapatkan juara III; Yay!!!, saya juga belajar banyak saat itu.
Setelah mendapat pengumuman bahwa saya lolos 8 besar sebagai salah satu finalis dihari-hari sebelumnya, saya memantapkan langkah saya memasuki Aula Teater Kampus Bawah Undiksha untuk mengikuti babak presentasi pada hari Minggu 19 Mei 2013.
Setelah melalui acara pembukaan, babak presentasipun di mulai. Semua finalis di panggil panitia untuk mengambil undian nomor urut presentasi. Dengan berdebar saya mendapat nomor urut 7. Nomor yang sangat membuat jantung saya berdebar-debar. Disatu sisi, saya mendapat banyak waktu untuk mempersiapkan mental saya. Disisi yang lainnya, saya semakin berdebar melihat penampilan para teman-teman peserta yang sangat bagus.
Setelah mendapat nomor urut presentasi masing-samping, babak presentasipun di mulai. Secara bergilir peserta maju kedepan mempresentasikan tulisan opini yang di buat. Setelah presentasi, juripun berkesempatan mengomentari sekaligus bertanya. Jujur mendengar komentar juri, saya pun semakin gugup. Hingga tiba pada giliran saya, setelah peserta dari STIKES Majapahit Singaraja & sebelum peserta dari Universitas Udayana, saya dengan kemampuan terbaik saya membawakan opini saya yang berjudul "Kearifan Lokal dalam Semangat Kebangkitan Lokal Abad XXI". Setelah presentasi beberapa kometar dan pertanyaan yang saya ingat dari dewan juri:
- Apa yang saya presentasikan sebenarnya bisa menjadi sebuah opini. Tetapi itu tidak disampaikan dengan bagus di tulisan saya. Saya disarankan merekam apa yang ingin saya tulis karena menulis tidak segampang berbicara.
- Sebenarnya tulisan saya logis, tapi ide saya bukan ide yang bagus. Dan di sampaikan secara standar juga di dalam tulisan.
- Saya disarankan memilih diksi yang lebih tepat antara rekonstruksi atau kata yang lain. Dan beberapa pertanyaan lagi.
Sebenarnya apa yang disampaikan oleh dewan juri juga saya rasakan sebelum menulis opini saya. Tapi jujur kreatifitas dan daya nalar saya sangat kurang. Jadi karena keinginan untuk belajar yang kuat sayapun memutuskan untuk ikut perlombaan.
Setelah semua peserta selesai mempresentasikan opinya, dan setelah makan siang, juri pun mengumumkan juaranya. Dan saya sangat terkejut mendapat juara III. Perasaan saya sangat senang. Sebab ini akan sangat berguna sekali membantu memotivasi saya untuk kedepannya.
Sebelum mengumkan para juara, salah satu perwakilan juri mengatakan bahwa tulisan-tulisan kami bukan karya terbaik. Karya-karya kami belum mampu untuk menyakinkan pihak surat kabar untuk diterbitkan. Beliau juga meyarankan kita untuk menulis bukan hanya untuk mengikuti perlombaan seperti ini. Tetapi menulislah setiap hari jika kita ingin menjadi penulis.

Beberapa refleksi yang bisa saya lakukan adalah:
1. Saya tidak boleh takut akan keterbatasan kapasitas otak yang saya miliki. Tapi saya harus lebih banyak berlatih. Seperti yang dikatakan oleh Thomas A. Edison bahwa kesuksesan adalah 10% kejeniusan dan 90% usaha keras.
2. Saya tidak boleh menulis hanya untuk mengikuti lomba saja. Tapi saya juga harus rajin menulis setiap hari.
3. Mengikuti acara-acara seperti ini sangat membantu meningkatkan pengetahuan dan pengalaman saya.

Friday, May 17, 2013

Tidak Ada Hal Baik Yang Terlambat

Malam rabu kemarin saya mendapatkan sebuah SMS yang sangat mendebarkan – pemgumuman 8finalis Lomba Penulisan Opini dari UKM Persma VISI Undiksha. Seketika saya jadi penasaran sekali apakah saya termasuk dalam daftar itu atau tidak. Kegusaran saya menjadi-jadi saat mengingat ketiadaan koneksi internet di rumah – ya, paket internet saya habis kira-kira 5 hari sebelumnya. Saya pun berusaha mencarinya di Facebook, kebetulan HP saya cuma bisa buka Facebook dan Twitter; maklum paket Gaul BB hahaha. 

Beberapa kali refresh pagefan Persma VISI, tidak juga terlihat pengumumannya. Setelah saya tinggal beberapa menit, link pengumuman akhirnya di posting admin. Lagi, saya harus menahan rasa penasaran saya karena itu Cuma link ke halaman web Persma VISI.

Merasa menyerah, saya pun pasrah. Mungkin saya tidak termasuk delapan finalis itu. Saya saat itu tidaklah kecewa, jujur. Karena niat awal saya mengikuti lomba ini adalah untuk mencari pengalaman, sekaligus pembuktian diri kepada diri sendiri yang menyatakan bahwa saya suka menulis. Juga, ini kali pertama saya ikut lomba seperti ini selama saya kuliah. Jadi tidak ada ekspektasi lebih.

Beberapa menit berselancar di Facebook, saya lihat ada notifikasi pesan masuk. Seorang teman baik saya, Pasek, mengabari saya bahwa saya menjadi salah satu finalis bersama Rere, teman baik saya yang lainnya di satu jurusan. Saya yang tidak percaya berusaha menanyakan lagi ke Pasek bahwa dia tidak bercanda. Dan memang betul, saya lolos. Saya menjadi salah satu delapan finalis. Hehehe.

Bukan lolosnya saya menjadi finalis, atau ingin membanggakan diri yang ingin saya tunjukkan di sini. Saya cuma ingin menunjukkan bawah TIDAK ADA HAL BAIK YANG TERLAMBAT. Di saat sibuk dengan skripsi, saya juga ingin menunjukkan bahwa saya masih bisa melakukan hal yang lain yang baik juga. Mungkin teman-teman juga melakukan hal-hal yang baik yang lain juga. Target saya tidak menjadi juara, tapi melakukan hal positif yang saya sukai. Wish me luck! 

Tuesday, May 14, 2013

BALI EMERGING WRITERS FESTIVAL 2013

The Education of Laura Jean

Writing is the way to help me record and remember the world”- said Laura Jean in Bali Emerging Writers Festival 2013 (#BEWF13), road show to Singaraja on the 12 of April in Auditorium SMA Lab Singaraja.






It was the second day of #BEWF13 in Singaraja. I missed the first day because of the business I had. I went there at the minutes past ten, so I thought I was late for the event. But, when I arrived, it hadn’t been started yet. After registering myself, I took a snack and had a seat. I saw a foreigner, who I guessed as the main speaker Laura Jean McKay and I wasn’t wrong, sitting and talking with my lecturer, Ibu Sonia.

At first, I was really shy to be there. Having no art related talent, I was surrounding by people who have and like it. I just kept my head down and shut my mouth up. But it changed when the event started. I felt better while hoping I could learn from these people about art.

At about 10.30, the event started. Ibu Sonia as the moderator accompanying Laura Jean sat down in the couch in front of the audiences. The event was organized into two: talk and discussion with Laura, and workshop about “character in prose”. Ibu Sonia facilitated the medium of the two sessions, since not all the participants master English.

In the talk and discussion, Ibu Sonia and also the audiences asked the several questions about Laura’s experience in writing such as her current work: Holiday in Cambodia, about memoir, how to find ideas, and so forth.

Here are the tweets about the talk and discussion:









Before beginning the workshop session, Laura asked several audiences to say their name as well as the meaning goes with it. It was done to show that every person has their own story since they were born.

Afterwards, she taught us about character sketch. She invited us to give our opinion about what character sketch is. Some of the audiences, including me, participated in that discussion.

Then, she showed us a picture of a woman. We had to decide her character. In the end, the character was named Raisa, an old woman who lived alone in the hill. She told us that from the character we could write a story.  So, we were also asked to decide her character when she was young. The audiences agreed that young Raisa was beautiful, and she was a dancer.

After deciding the character of the woman when she was young and old, we were asked to decide how Raisa could change from a young beautiful dancer into and old lonely woman. Then we got a story from a character.

She did another similar activity; to guess the character, but now she showed us through her performance. She read a monolog and performed it. Now, we should guess the character she was playing.

After that, we got some exercise. We had to think of a character then we were asked to walk around the hall as if we were the character. Then, we were asked to write a letter, describing ourselves, to a person we love that have forgotten us.

In the end of the session, Ibu Sonia and some of the youth from Komunitas Mahima sang a musical poetry to close the event.

Update (28/5):
I just found the video created by the committe, and here it is:


Thursday, May 02, 2013

Si Mambang Kuning



Memandang si mambang kuning
Cerah hati jelas kentara
Angin sore bingkis luka
Bawa pedih tak kembali

Bersama mengikar janji
Puja harap malam berbintang
Lahirkan pagi penuh cinta
Tuk k'mbali bersua si mambang kuning

Arik Budiarsana  (Sangsit, 25 April 2013)

Sunday, April 28, 2013

Marisna successfully overtook other finalists in English Essay Competition 2013


The judges and the winners: Mrs Sonya, Bu Marisna, Mrs. Ratminingsih, Pak Suastika, Bu Ari, Mr. Wage

Saturday, April 20: Marisna successfully overtook other finalists to be the first winner in English Essay Competition 2013. Her score exceeded Suastika’s and Ari’s who also brilliantly presents their essay. She collected 1280.8 points, 46.6 points ahead Suastika as the second winner, and 105.8 points ahead Ari Marlini as the third Winner.